Kamis, 30 Oktober 2008
senja disudut kota
senja itu, manakala matahari terasa bergegas ke peraduannya. seorang ibu muda tengah pulang dari kerjanya yang memeras keringat dan jiwanya. dipelupuk matanya hanya terbayang senyum anak semata wayangnya yang baru 12 bulan yang sedang menunggu dirumahnya, kelucuannya seakan memasuh jiwanya yang letih. tapi di sudut kota itu, manakala senja tengah memainkan kuasanya atas semesta. pandangan sang ibu tersandung oleh pemandangan yang mengiris hati dan jiwa keibuannya. di sudut kota itu matanya melihat seorang ibu paruh baya tengah meneteki anaknya. wajahnya ibu paruh baya itu kelihatan lusuh, nampak jelas kehidupan telah mencampakkannya ke lembah penderitaan, laksana angin mencampakkan debu-debu keangkasa. pandanganya sayu seakan-akan tak ada bagian dunia yang tersisa untuknya. sementara sang anak, nampak kurus sampe-sampe rusuk-rusuknya nampak jelas , ingus menetes dari hidungnya dan airmatanya nampak kering. rupanya sang anak itu tetap menetek puting sang ibu yang tak lagi mengeluarkan susu. sang ibu muda hanya terpaku melihat kejadian itu, dunia seperti berhenti sesaat, dalam hati dia bertanya "oh sang jiwa paruh baya kenapa engkau begitu menderita, mana keadilan tuhan, kenapa dia mencampakkanmu seperti ini, apakah engkau telah menghina-NYa atau engkau telah mengkhianatinya?" tapi jiwanya yang lain segera berteriak lantang" ah tidakkah kau tau, ibu itu sedang memerankan drama kehidupan yang lain, hari ini dia kelihatan seperti pengemis tapi setelah mendapat uang mu dia segera akan menjadi kaya"sambil menahan jiwanya yang tergoncang melihat pemandangan itu,sang ibu muda melangkah mendekati sang ibu tua" ibu apakah ibu sudah makan? maukah ibu saya belikan makan?. sang ibu paruh baya itu hanya terdiam, tapi pandangan seakan-akan hendak berkata" nak aku sudah tidak makan berhari-hari sampe-sampe rasa lapar menahan lidahku" sang ibu muda segera bergegas mencari warung nasi dan beberapa saat kemudian tanganya telah menenteng dua bungkus nasi" ibu makanlah, nasi ini akan bisa menghangatkan jiwa ibu dan sikecil itu? dalam sekejap dua bungkus nasi itu sudah habis, seketika jiwa sang ibu paruh baya terobati oleh keharuan. oh ternyata masih ada didunia ini yang begitu baik. sang ibu muda hanya tersenyum dan berkata" ibu semua ini karena saya juga punya anak seperti ibu"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar